Aktivis Lingkungan Garut Tanggapi Usulan Perubahan Status Cagar Alam Cijeruk jadi Taman Wisata Alam

1
35
Pantai Cijeruk Garut Selatan (JabarBicara/Ik)

GARUT, JABARBICARA.COM – Rencana usulan perubahan status Pantai Cijeruk menjadi TWA ini mendapat tanggapan dari masyarakat pemerhati dan aktivis lingkungan di Garut.

Pemerhati lingkungan dari Institute For Ecological Study (INFEST) Ebiet Mulyana, ketika diminta tanggapannya, menyampaikan saran sebaiknya status Pantai Cijeruk tidak dirubah.

“Seringnya terjadi kecelakaan dan menelan korban akibat terseret arus di Pantai Cijeruk, menunjukan kondisi alam tidak memungkinkan untuk dijadikan tempat wisata, dan hutan konservasi Sancang dimana Cijeruk sebagai bagian dari kawasan tersebut adalah benteng terakhir keanekaragaman hayati ekosistem pesisir pantai selatan Jawa Barat. Statusnya harus tetap Cagar Alam,” ucap Ebiet kepada jabarbicara.com, Rabu (15/1/2020).

Menurutnya, peruntukan pantai untuk tujuan wisata sudah banyak, yang belum ada itu pantai dengan peruntukan penyelamatan ekosistem.

“Pantai Cijeruk dan kawasan Sancang sebaiknya dijadikan kawasan untuk penelitian keanekaragaman hayati hutan dan pantai,” ungkapnya.

Sejalan dengan Ebiet Mulyana, pegiat seni dan pelaku pelestarian lingkungan, Asep Zaenal menyatakan lebih setuju Pantai Cijeruk tetap dijadikan kawasan Cagar Alam.

Baca Juga:  Pantai Cijeruk pun Merupakan Destinasi Wisata Mempesona di Garut

“Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) harus hadir di Pantai Cijeruk. jangan dibiarkan masyarakat datang ke Pantai Cijeruk tanpa pengawasan ketat, apalagi disana tidak ada rambu-rambu larangan berenang di pantai atau rambu-rambu yang menyebutkan Cijeruk adalah kawasan konservasi yang tidak boleh siapa pun masuk tanpa izin”, ungkap Asep.

Pihaknya mengajak berbagai elemen masyarakat yang bergerak di bidang pelestarian untuk mendesak BKSDA sebagai aparat yang bertanggungjawab pada pelestarian kawasan Leuweung Sancang dan sekitarnya agar tetap menjaga status kawasan Sancang, termasuk Cijeruk sebagai kawasan cagar alam jangan sampai keanekaragaman hayatinya rusak akibat aktivitas pariwisata.

“Sancang termasuk Cijeruk didalamnya, bisa dijadikan kawasan untuk penelitian keanekaragaman hayati hutan pantai,” ujarnya.

Aktivis lingkungan lainnya yang diminta tanggapan juga menyatakan ketidaksetujuannya kalau Pantai Cijeruk dibuka untuk umum.

Baca Juga:  Situ Bagendit Jadi Tujuan Wisata “Garut Lautan Sepeda”

Pelaku pelestarian lingkungan berbasis kearifan lokal sunda “Patanjala”, Asep Maher, sangat menyayangkan keinginan Kadisparbud Garut membuka Pantai Cijeruk untuk umum.

“Cukup disayangkan akan usulan Kadisparbud sebagaimana dalam berita tersebut. Jika itu benar, betapa setingkat Kadis tidak punya rasa berkepentingan dan visi kebudayaan, budaya adalah soal nilai luhur dan makna, Pantai Cijeruk itu daerah konservasi dan budaya. Dalam Sunda, termasuk  “leuweung larangan”, yang befungsi menjaga kesetimbangan alam, dan itu terlarang dimasuki manusia tanpa kepentingan konservasi, dan Leuweung Sancang punya makna sosial bagi kebudayaan Garut dan Sunda khususnya,” tutur Asep Maher.

Asep menduga Kadisparbud hanya punya konserp pada pariwisata, mungkin soal Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Usulan Kadisparbud itu berbahaya bagi kepentingan konservasi alam lingkungan dan makna sosial budaya. Sebaiknya kalau persoalan sebenarnya PAD, intensifkan dan berdayakan saja kawasan wisata yang sudah ada”, pungkasnya.

Baca Juga:  “Pesona Keren dan Menantang”, Berwisata di Curug Ciparay Sambil Menikmati Kopi Parentas

Turut menanggapi pula aktivis lingkungan KPLH Belantara, Rahmat Leuweung yang sudah biasa melakukan kajian hutan di pegunungan Jawa Barat. Menurutnya, BKSDA dan Pemkab Garut tidak tegas melarang kunjungan wisata ke kawasan Cagar Alam di kawasan Sancang.

Rahmat berpendapat daripada fungsi Cagar Alam menurun luasannya, apalagi sudah terjadi alih fungsi blok Cimerak, sebaiknya Pemkab lebih mengoptimalkan objek wisata Pantai Karang Paranje yang kondisinya tidak jauh dengan Pantai Cijeruk.

“Cibaluk-Cijeruk merupakan sungai yang memiliki peranan penting untuk keberlangsungan Cagar Alam Sancang karena masih satu kesatuan ekosistem. Di sebelah barat, Sancang dibatasi oleh Sungai Cisanggiri yang menghadap ke Gunung Mandalagiri (hulu sungai cimanuk), dan di timur dibatasi Sungai Cikaengan yang menghadap ke Gunung Cikuray. Kedua sungai tersebut sama memiliki fungsi dan peranan penting untuk keberlangsungan Cagar Alam Sancang dalam waktu lama,” tutupnya. (Tisna)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here