‘BANDUNG ART MONTH 2020’ Komunitas 22 Ibu Mempersembahkan Galeri Seni Rupa di Ruang Maya

0
340

BANDUNG, JABARBICARA.COM– Pandemi Covid 19 yang melanda dunia telah menyebabkan terjadinya tatanan dan sikap baru dalam kehidupan sehari hari bahkan dalam pola pekerjaan para professional, yang paling menjadi ciri akan ada wabah ini adalah tentang “jaga jarak” secara fisik.

Bandung Art Month 2020 yang digelar pada tahun ketiga ini, mengutamakan protokol kesehatan sehingga salah satu program yang digelar nya melalui pameran virtual, sedangkan kegiatan yang dilakukan offline harus memperhatikan ketentuan seperti dibatasi yang hadir, jaga jarak, pengukuran suhu tubuh sebelum masuk ruangan, cuci, tangan dan penggunaan masker. Komunitas 22 ibu dalam rangka memperingati 7 tahun berkarya menampilkan galeri virtual yang dapat diakses melalui chanel youtube nya. Pameran virtual ini menjadi istimewa karena kondisi pandemi tidak menyurutkan keinginan komunitas untuk terus berkarya secara produktif. Pameran yang digelar kali ini sekaligus sebagai persembahan 7 tahun berkarya komunitas 22 ibu dan berlangsung dari tanggal 22 Agustus hingga 22 Desember 2020.

Pameran yang sudah dibuka oleh Ibu Triana Wulandari dari Kemendikbud, dalam kesempatan tersebut Triana menyampaikan bahwa menelusuri perjalanan perempuan perupa dan pendidik seni dengan ketertarikan yang sama secara konsisten melakukan kegiatan berkesenian, berkarya bersama-sama, hal ini yang membuatnya jadi menarik untuk diamati secara seksama. Perempuan perupa yang tergabung dalam komunitas 22 ibu ini merespon konstruksi sosial budaya tentang dirinya, sehingga dengan cara yang berbeda berkesenian dengan produktif dan membangun suasana secara kondusif. Video pembukaan yang ditayangkan di youtube mendapat apresiasi yang baik dari masyarakat. Tampaknya masyarakat juga sudah rindu akan kegiatan berkesenian dengan aktif kembali.

Baca Juga:  Virtual Solo Exhibition Arleti M Apin, MY PERCEPTION OF LIFE

Karya seni rupa yang disajikan secara virtual ini sesungguhnya sejak lama merupakan salah satu cara promosi ada atau tidak ada wabah, tidak berbeda dengan dunia periklanan yang berada di media elektronik seperti televisi. Kini di era digital lebih banyak lagi jenisnya media massa nya seperti Youtube, Facebook, Instagram, Tweeter, WA dll. Setiap menit ribuan karya baru ditampilkan di seluruh pelosok dunia. Itulah dunia baru yang akan terus terbarukan.

Salah satu galeri virtual yang menampilkan pameran tunggal dari Niken Apriani tampaknya sudah tersebar di medsos ini dapat dicermati dengan seksama. Ada dua hal yang berbeda dalam mensikapi sajian seperti ini, pertama karya karya seninya sebagia konten dan yang kedua pola penyajiannya dalam bentuk video galeri virtual. Dalam sajian seperti ini, apresiasi publik menjadi instan. Jadi sifatnya sebatas informasi saja. Namun tentu saja perlu. Tinggal bagaimana strateginya bisa dijalankan. Tentu perlu dipikirkan lagi dan yang terpenting si pemilik merawatnya dan paham segala seluk beluk dunia maya. Jika tidak maka hanya akan jadi jejak digital saja.

Niken seorang Kepala Sekolah di SMPN 13 Cimahi, yang sebelumnya juga guru seni budaya, banyak mengeksplorasi pada bunga daun yang kemudian ditimpa dengan subjek matter figure. Sehingga beberapa tampilan karyanya tampak dramatis dan mengundang penasaran bagi penikmatnya. Pada karya-karya Niken yang menggunakan dua layer atau dua lapis kain tampak memiliki kekuatan pada komposisi, warna, garis bidang sebagaimana pada karya karya yang sifatnya dekoratif. Bagia Niken berkarya sudah menjadi kebutuhan dalam hidupnya. Keberaniannya memadukan tema bunga dan ditimpa dengan layer kedua berupa figure seolah ada acara baru dalam melukis yang diterobos dengan cara ekstrim.

Penggoda, 2020, Niken Apriani

Hampir semua karya yang ditampilkan menggunakan media sutra dan sebagian dibuat dengan berleyer (berlapis) menjadi satu cirikhas dari karya Niken Apriani, sehingga karya yang dihasilkan akan berbeda bila dilihat dari samping dan dari depan juga dilihat dari jarak jauh dan jarak dekat. Penggunaan 2 jenis kain yang berbeda sutra satin dan sutra organdi yang memberi kesan transparan dan lembut menjadi kekuatan tersendiri dalam mengeksplorasi media dan tema dalam berkarya. Tidak hanya itu penggunaan gutta tamarin sebagai alternatif pengganti malam panas pada proses batik merupakan kekhasan yang lain pada karya karyanya . Goresan karya yang sebagian besar bertema bunga penuh makna memperlihatkan kematangan dalam mngolah media dari waktu ke waktu. Niken adalah seniman yang bisa bereksplorasi dengan kemampuan teknisnya yang luar biasa ini. Galeri virtual ini memperlihatkan bagaimana perjalanan berkarya Niken, mengikuti berbagai pameran didalam maupun diluar negri selma 7 tahun bergabung dengan komunitas 22ibu.

Baca Juga:  Seminar online seri ASEDAS-2020 hari ke-2: 'Menerapkan Seni dan Ilmu Pengetahuan dalam menghadapi Pasca Pandemi, bersama Universitas Agung Podomoro dan ASEDAS-2020'

Karya lainnya dapat kita tengok melalui galeri virtual ini adalah Sri Sulastri seorang guru seni budaya yang mengajar di SMPN 4 Cimahi. Sri menyajikan tema dunia pewayangan. Kekuatan Srie pada tema wayangnya ini misalnya pada adegan di kelas, dimana Sang Guru disimbolkan sebagai wayang, yang membebaskan dirinya tidak terikat pada tokoh siapapun dalam dunia pewayangan. Padahal tokoh di dunia pewayangan adalah karakter utama. Ada yang jahat ada yang baik, serba hitam putih namun dibalik penokohan itu ada ajaran hidup dan pesan pesan tertentu yang hendak disampakan. Jadi untuk Sri peluangnya adalah menggali adegan adegan yang bisa jadi menggambarkan ironisme, sarkasme dan kritik sosial yang menohok. Terlepas dari itu semua, seorang Sri tetap berkarya dengan dunianya, figure yang ditampilkannya dalam beberapa adegan mengusung kegiatan yang dianggap kekinian, diantaranya ada wayang cantik sedang berkarouke, wayang cantik sedang selfie, wayang cantik bercicin batu akik, wayang cantik mau pergi belanja atau shoping, wayang gagah yang mau memancing, wayang sedang belajar di kelas, wayang sedang membatik, wayang sedang belajar menari.

Wayang belajar menari. 2019. Karya Sri Sulastri.

Siapa tokoh yang diusungnya, seolah bagi Sri tidak penting, karena ia ingin menghadirkan sosok wayang dalam benaknya sendiri. Semua ini juga dikemas dalam sajian video berdurasi 3 menit saja. Pemirsa diajak berkeliling galeri menikmati sajian karya-karya Sri dengan cepat dan beberapa direpeat visualisasinya, di zoom, sehingga waktu berjalan terasa demikian cepat namun demikian tidak membosankan. Sajian video dengan durasi 3 menit rasanya terlalu cepat untuk menikmati sebuah pameran di dunia maya. Tampaknya oleh komunitas 22 Ibu, semua galeri sudah ditentukan tayangnya sekitar 3-4 menit. Waktu yang sangat diperhitungkan, karena pada 10 detik pertama video ini sangat menentukan pemirsa, melanjutkan atau beralih ke video lain yang diminatinya. Selamat mengapresiasi. (Art/Jb)

Baca Juga:  GBSRI Peduli Kelestarian Satwa Harimau Sumatera

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here