Ini Sikap Empati Ma’mun Gunawan dan Kajari Garut terhadap Nasib Keluarga Ajang.

0
198

GARUT, JABARBICARA.COM- Aksi Ajang (41), warga Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, yang mencuri HP agar anaknya bisa belajar online, mendatangkan keprihatinan banyak pihak. Bahkan ada di antaranya yang berempati menyumbang untuk membantu meringankan beban keluarga petani miskin itu.

Di antara sejumlah pihak yang datang berkunjung ke rumah Ajang dan memberikan bantuan, termasuk Ma’mun Gunawan. Kepala Seksi Sarana Prasarana Sekolah Dasar pada Dinas Pendidikan Garut ini, datang ke rumah Ajang pada, Rabu (05/08/2020) pagi selepas apel di kantornya.

“Saya lakukan itu secara spontan saja. Habis apel membaca berita tentang seorang ayah yang mencuri HP demi anaknya bisa belajar online, saya langsung minta izin ke Pak Kadis untuk datang ke rumah Bapak Ajang. Baru 15 menit saya berada di sana, datang Bapak Kajari Garut bersama rombongan untuk melakukan hal yang sama,” terang Ma’mun, Rabu (05/08/2020) petang.

Baca Juga:  Pangkostrad Lakukan Kunjungan Dinas ke Yonif Rider 303/SSM Kostrad

Ia menerangkan bahwa dirinya ngobrol cukup lama dengan Ajang dalam pertemuan tersebut. Banyak hal yang diceritakan Ajang, terutama masalah seputar keluarga dan anak-anaknya.

Menurut Ma’mun, Ajang memiliki tiga anak. Yang pertama adalah lelaki berusia sekitar 16 tahun dan putus sekolah sejak kelas 2 SMP. Anak kedua perempuan baru duduk kelas 1 di MTs Negeri 1 Garut, dan anak ketiga masih berusia empat tahun.

“Terkait dengan nasib anak sulungnya yang putus sekolah, insha Allah saya akan menyekolahkannya di PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Mengajar) terdekat agar ia bisa tetap mengenyam pendidikan sambil bekerja di tempat cuci steam motor,” ujar dia.

Ma’mun mengaku ikut berbahagia ketika tahu bahwa anak kedua Ajang yang bernama Sinta mendapat bantuan dari Kajari Garut, Sugeng Heriyadi, berupa HP android dan peralatan sekolah serta sembako.

Baca Juga:  'Ershi', Alumni Dikmaba Polri Angkatan ke-20 Santuni Keluarga Komali

Dengan sudah dimilikinya HP oleh Sinta, pihaknya berjanji akan melakukan pemantauan agar Sinta tidak mengalami hambatan dalam pembelajaran daringnya.

“Meski Sinta bersekolah di Madrasah Tsanawiyah yang merupakan ranah Kementerian Agama, namun kami tetap akan memberikan bimbingan karena ini adalah masalah sosial dan kemanusiaan yang merupakan tanggungjawab bersama,” kata dia. (*/Jb)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here