Kembang Kertas Sejagat Mewangi Nusantara

0
234

JABARBICARA.COM– Sebuah judul pameran virtual yang diusung dalam masa pandemi ini. Kegiatan berkesenian para perupa memerlukan ruang gerak yang tidak melanggar prosedur new normal. Profesor Setiawan Sabana, Guru Besar Institut Teknologi Bandung adalah orang yang berjasa dibalik ini semua. Beliaulah yang menggagas acara ini sejak lama, yaitu sebelum pandemi melanda dunia. Ketika itu gagasan ini masih diproses dan direncanakan dalam bentuk yang berbeda sekali dengan kenyataan yang kini terjadi. Tentunya tak seorangpun menyangka bahwa kondisi serta situasi yang akan melanda.

Gagasan ini berencana diwujudkan dalam bentuk pameran dan workshop serta beberapa pertunjukan karena aneka potensi yang terdapat dalam lingkung jejaring perupa. Uniknya Profesor Setiawan Sabana, menekankan bahwa kegiatan ini untuk perempuan perupa, sebab beliau secara pribadi amat menghormati perempuan. Ibu, istri, anak, saudara perempuan serta rekan adalah pengalaman interaksi dengan perempuan yang mengesankan begitu dalam hingga kegiatan ini didekasikan untuk perempuan, khususnya Indonesia.

Baca Juga:  Pelatihan Melukis Batik, dengan Media Gutta Tamarind.

Setelah perencanaan acara KKSM ini sempat tertunda oleh karena situasi yang membingungkan banyak orang, maka Ibu Ariesa Pandanwangi selaku ketua pelaksana memutuskan untuk melanjutkan program ini. Maka dibantu tim kerja sekitar 10 orang untuk merealisasikan rencana ini, mengerahkan jejaring dari tiap anggota untuk meluaskan peluang.

Rencana untuk menghubungkan perupa perempuan se Indonesia lalu mulai dilakukan secara serentak, semua pihak saling bahu membahu hingga tertuang dalam rangkaian Festival Kembang Kertas Sejagat Mewangi.

Diikuti oleh sekitar 82 perempuan praktisi seni dan 10 seniman asing dengan karya yang beragam; mulai dari lukisan di atas kanvas, kertas, kriya, video, dan instalasi dapat dilihat dalam galeri pameran virtual yang telah dibuka pada tanggal 26 September 2020.

Tema pameran kembang kertas ini diterjemahkan begitu luas oleh para peserta pameran, para perupa seolah memiliki ruang interpretasi yang bebas dan unik. Sudut pandang perupa wanita tentu memiliki keindahan tersendiri, dengan pengalaman, kesibukan dan keahlian spesifik perupa perempuan mengekspresikan dalam karya mereka.

Arleti M Apin, perupa & dosen di Institut Teknologi Harapan Bangsa Bandung, menyajikan karya dalam teknik batik bubur tamarin.

Visualisasi karya yang ditampilkan berupa penggambaran aneka tanaman dengan penyederhanaan garis dan gaya mengarah pada dekoratif. Di atas bidang berukuran 50 x 120 cm, ia menyusun bunga serta dedaunan yang berbeda bentuk. Warna lembut dan segar menjadi pilihannya untuk menampilkan keceriaan pada karyanya.

Kembang di sudut halaman. Arleti M Apin. 50 x 120 cm . 2020. Teknik Batik tamarin di atas kain

Saat semua harus berada dan bekerja dari rumah, sudah barang tentu terjadi perubahan kebiasaan yang mendasar, hal ini dialami juga oleh Arleti, sebagai ibu rumah tangga, dan pengajar, ia pun melakukan sejumlah penyesuaian dengan kondisi ini. Terkadang ada rasa jenuh yang datang, tapi hal ini tak pernah menyurutkan semangatnya, pergantian suasana memberikan peluang untuk lebih mengamati lingkungan seputar halaman rumah. Hal kecil seperti bunga liar, dedaunan dengan beraneka bentuk serta nuasa warna yang sebelumnya kurang diperhatikan kini jadi hal yang mengasyikkan.

Baca Juga:  Seminar International online Prodi DKV Universitas Paramadina-ASEDAS-2020 'Digitalized Design for Social Life and Spesial Need'

Benda –benda yang berada di sekitar rumah serentak jadi inspirasi emosi yang menggairahkan serta menyejukkan. Desir angin menerpa daun, menggoyangkan kelopak bunga dan jatuh diatas rumput liar lalu melayang lagi ke atas daun lainnya, semua menghadirkan suasana mengelitik hati. Ia memilih mengungkapkan impresi yang diperoleh dari suara dan pemandangan dari seputar rumah dalam dominasi goresan lengkung dan warna cerah dan lembut.

Teknik batik dengan bubur tamarin yang dipilih merupakan sebuah meditasi dalam bentuk yang berbeda, karena teknik ini menuntut kerja yang tekun serta ketelitian.Warna bisa tampil jadi sebuah kejutan karena pekerjaan ini tidak dibuat diatas kertas, maka seringkali warna yang didapatkan diakhir tidak persis dengan kondisi di awal berkarya. Secara umum, karya ini terasa sekali nuansa feminin yang kelembutan dan segar merekam suasana rasa yang diterimanya ketika berkarya. Baginya kondisi pandemi covid 19 ini bukan halangan, kesempatan ini malah membuka luas potensi kreatifitan dan wawasan diri terutama dalam berkarya rupa. (Art/Jb)

Baca Juga:  Seminar online seri ASEDAS-2020 hari ke-2: 'Menerapkan Seni dan Ilmu Pengetahuan dalam menghadapi Pasca Pandemi, bersama Universitas Agung Podomoro dan ASEDAS-2020'

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here