Perupa Perempuan Kalimantan

1
273

PONTIANAK, JABARBICARA.COM– Enam perupa perempuan Kalimantan yang terlibat dalam Festival Kembang Kertas Sejagat Mewangi Nusantara pada 26 September sampai 16 Oktober 2020 merupakan seniman yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu. Karya yang digelar dalam perhelatan ini adalah karya lukis yang menggambarkan keragaman budaya Indonesia dalam bentuk realis, surealis, abtrak dan dekoratif, yang mana sumber idenya diolah dari imajinasi dan perenungan seniman mengenai kehidupannya. Medianya menggunakan media cat dan kolase. Namun dari berbagai pemanfaatan media tersebut, yang menarik adalah sebuah penggambaran spirit baru perempuan dalam memaknai sebuah bunga yang tidak ditafsirkan secara sempit oleh pemikirannya.

Perupa perempuan Kalimantan bukan hanya menjabarkan realitas bunga secara biasa, namun mereka berbicara mengenai Fakta-Morgana yang disangka tidak ada namun sebenarnya tampak nyata yaitu fenomena kehidupan perempuan Indonesia dalam bingkai bunga.

Atien Purwaningsih
Enchantment of the Kalimantan Black Orchid
Oil & Acrylic Paint on Canvas
100 x 50 cm, 2020

There is a sense of peace that I hold in there
And I feel that.

Dyah Paramita Candravardani, Karamunting, Queen of Bush, Cat Minyak di atas Kanvas, 40 x 60 cm, 2020

“Karamunting, Queen of Bush” terinspirasi oleh keprihatinan pembukaan lahan hutan yg semakin meluas dan seolah tidak menghiraukan kekayaan alam hayati yang terancam kepunahan. Karamunting adalah tanaman berbunga cerah yang tumbuh liar di belukar Kalimantan. Karamunting secara tradisional memiliki banyak manfaat untuk kesehatan, dari buah, bunga, daun, hingga batang dan akarnya. Jadi lukisan ini mengajak kita untuk menyadari bahwa hutan dan belukar Kalimantan (Indonesia) perlu diperlakukan dengan bijaksana agar kekayaan hayati yang terkandung di dalamnya tidak punah sia sia.

Maui Chiver, Semi Acrylic on Canvas
80 x 100 cm
2020

Bunga itu bagaikan kehidupan, yang senantiasa selalu tumbuh dan berkembang, seperti nusantara yang kaya akan keberagamannya. Pesona keindahan yang memberikan ketenangan dan kedamaian, menebarkan kebajikan cinta kasih dan harum semerbak seluruh alam raya nusantara.

Tiara Ferdiyanti
Ruwatan Nusantara
Acrylic on Canvas
110 x 90 cm
2020

Ruwatan merupakan sebuah tradisi spiritual yang dimiliki masyarakat Indonbesia, khususnya masyarakat adat. Tradisi ini biasa dilaksanakan untuk menyingkirkan atau menanggulangi sangkala suatu wilayah atau seseorang. Berkaitan dengan ini, saya menghadirkan suatu kearifan lokal yang bersifat spiritual dalam sebuah karya seni, dengan konteks yang lebih spesifik, yaitu merespon carut marut yang tidak pernah selesai disuatu negeri.

Rizka Azizah Hayati
“Noda Karat”
Oil pastel dan cat akrilik di atas kanvas
60 x 80 cm
2020

Hidup dengan rutinitas yang itu-itu saja, dalam keadaan yang tidak berimbang puluhan tahun, dunia dan konsep budaya banyak berubah namun masih belum tuntas rasanya, menjalani banyak peran dalam satu badan. Siapa yang peduli rasa lelahnya? Aku melihat multiperan yang dipegang perempuan kadang juga dimanfaatkan. Siang itu, aku menyaksikan seorang wanita yang mencari nafkah, kemudian harus menyuguhkan kopi kepada tuan yang sedang ongkang-ongkang kaki menghisap rokok kreteknya di Kasur.

Baca Juga:  Prodi Seni Rupa Murni-Maranatha Gelar Pameran Virtual untuk Donasi Kepedulian Penanggulangan wabah Covid-19 "I care therefore I exist"

Dia seorang wanita yang harus menghidupi ketiga anaknya dengan beberapa luka lebam di badannya karena setiap pukulan lancing dari seorang pria yang katanya suami namun tidak mengambil peran apa-apa dihidupnya, kecuali sperma. Sama seperti bunga matahari yang indah namun harus terus merunduk mengiyakan haknya, marah dengan rutinitas yang tidak tau harus bertindak apa.

Puji Rahayu
“Perjalanan Menuju Cahaya”
Mixed Media (Kolase kayu kapuak dan acrylic) on canvas
150x120cm, 2020

Bunga Terung dalam masyarakat Dayak di Kalimantan Barat, terutama pada Dayak Iban, Dayak Taman, Dayak Kayaan dianggap sebagai symbol kepangkatan atau status sosial yang identic dengan kepahlawanan seseorang. Pemaknaan bunga terung sebenarnya adalah perjuangan manusia dalam perjalanan mencari arti hidup sesungguhnya, untuk suku dan kampung halamannya. Pencapaian manusia Dayak tidak dipandang dari kekayaan, namun dilihat dari sisi perjuangannya dan seberapa jauh dia dapat berguna masyarakat (sukunya).

Baca Juga:  Seminar online seri ASEDAS-2020: 'Menerapkan Seni dan Ilmu Pengetahuan dalam menghadapi Pasca Pandemi, bersama Universitas Agung Podomoro dan ASEDAS-2020'.

Pada lukisan ini digambarkan bunga terung sebagai simbol perjuangan dalam menempuh bahtera kehidupan manusia menuju pada satu titik cahaya sesungguhnya, yaitu berguna bagi manusia lainnya. (Art/Jb)

1 KOMENTAR

  1. Pameran KKSMN inib merupakan ajang silaturahmi antar perempuan seniman di berbagai lintas ilmu dan berbagi ilmu di bidang masing2. Kembang kertas melambangkan kekokohan dan kebersamaan yang terangkai lewat karya. Bunga adalah tampilan keseharian kaum wanita. Mekar mewangi sesuai dengan gemulainya jari lentik seorang perempuan yang nampak harum, segar, selalu mekar ibarat ketelatenan seorang perempuan dalam menghadapi hidup sehari-hari. Semoga kedepan pertemuan virtual seperti ini bisa diwujudkan dengan pertemuan yang sesunguhnya. Bukan hanya mimpi. Semoga.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here