Refleksi Rasa (A Reflection Soul)

0
296
Nuning Yanti Damayanti. Kurator tinggal di Bandung

Ditulis oleh : Nuning Damayanti

Gaya realis dan ekpresif yang hadir pada kanvas, kertas dan kain digoreskan melalui warna-warna yang kuat oleh tangan lembut seorang perempuan, merupakan salah satu deretan karya yang dipamerkan dalam sebuah Galeri Virtual. Pameran dari rangkaian kegiatan yang bertajuk “Persembahan 7 Th 22 Ibu”, yang digelar bersamaan dan menjadi bagian acara akbar Bandung Art Month 2020 yang bertajuk “Edankeun”. Berlangsung dari 22 Agustus – 22 Desember 2020.

Komunitas 22 Ibu menampilkan sebanyak 25 galeri virtual memuat karya perupa-perupa perempuan yang bisa diakses di YouTube Channel ‘Komunitas 22 Ibu’.
Kali ini fokus pada Galeri Virtual Gilang Cempaka yang bertajuk “A Reflection Soul” (refleksi rasa), karya-karyanya didominasi gambaran figur perempuan, jumlah karya ada 32 buah dibuat dengan beragam media akrilik pada kanvas, drawing pada kertas & batik pada kain. Terdiri dari tema-tema serial yang menarik untuk disimak, karena Gilang memvisualisaikan ungkapan-ungkapan konflik antara realitas kehidupan dan imajinasi ungkapan rasa, merespon kedudukan perempuan dan permasalahan yang mungkin bisa mewakili perempuan-perempuan masa kini.

Seperti juga yang disampaikannya bahwa proses menciptakan karya bagi Gilang bukan hanya ekspresi emosi, tapi juga refleksi kontemplasi dan perjalanan jiwa, juga bukan sekedar meditasi dalam keheningan. Karya itu terwujud dari garis, bentuk dan warna sebagai bagian dari unsur-unsur rupa dikomposisikan sedemikian rupa, kemudian menjadi gambaran yang merefleksikan pesan-pesan simbolik yang ekpresif. Karenanya karya seni merupakan paket keindahan dan harmoni antara tubuh dan jiwa seorang perupa. Bagi Gilang proses penemuan ide tidak hanya datang dari internal diri sendiri, tetapi juga dari lingkungan eksternal, khususnya permasalahan perempuan.

Baca Juga:  Pengabdian pada Masyarakat yang Terdampak Pandemi Covid-19 oleh Program Studi Desain Produk FSRD Universitas Trisakti Jakarta

Karya-karya Gilang seperti juga karya-karya kebanyakan perupa perempuan seringkali menunjukan kejujuran yang bisa dilihat mata, tetapi di luar itu juga memuat makna berlapis yang kompleks cerminan keberadaan jiwa perempuan yang terdalam.

Serial pertama yang menarik berjudul “Highway mellow” berjumlah 5 karya, yang ternyata seri ini memiliki benang merah yang kuat dengan karya ” She Left”, “Hiding, Sleepy, Preetty” , “Self reflection”, “Somewhre behind the Grass”, “Somewhere behind the Road “, Aku, Dia dan Secangkir kopi”, juga “the Last Journey”, karya-karya ini sangat menarik untuk dikritisi.

She Left. acrilic on canvas, 130x110cm.
Aku, dia, dan secangkir kopi karya Gilang Cempaka. Acrilic on canvas

Dominasi gambaran figur perempuan yang menunjukan gesture pelukisnya, selalu sosok perempuan cantik, langsing berambut panjang. Juga gambaran manusia kecil laki-laki bersayap pada sejumlah karya, pastinya simbolisasi yang kuat tentang sesuatu yang sangat penting bagi dirinya. Saya mencoba menelusuri seluruh karya yang memuat figur perempuan sedang menelusuri perjalanan, didampingi malaikat bersayap kadang juga sendiri entah pergi kemana dan dimana agak sureal.

Pada karya” the last Jurney” manusia kecil bersayap hadir kembali dan agak berjarak diketinggian. Mungkin karya ini merupakan kesadaran Gilang bahwa akhirnya harus kembali kerealitas hidup yang kadang selalu menegangkan seperti juga perjalanan panjang di Highway. Ungkapan simbolik dan metafora yang puitis digambarkan dengan goresan kuas yang sepertinya ekspresif, tapi tidak juga karena ada kontrol yang cukup tinggi dalam mengkomposisikan dan pemilihan obyek-obyeknya. Gambaran-gambaran itu merefleksikan suasana mengharu biru, mungkin seperti saya tulis sebelumnya Gilang mewakili perempuan lain nya yang sedang melow ingin menghilang sejenak-pergi dari rutinitas kesehariannya. Entahlah saya juga sebagai perempuan merasakan keharu biruan itu ketika mencoba berusaha memahami pesan dibalik simbolik metafor lukisan Gilang.

Baca Juga:  Perupa Perempuan Kalimantan

Serial karya yang cukup menohok berjudul “Cukup 4 Istri”, dibuat dengan teknik Drawing dengan media drawing pen, ada 3 seri yang apik menggambarkan wajah laki-laki dan berjejer diantara 4 perempuan. Satu buah lainnya pada kanvas dengan media akrilik, yang hanya menggambarkan 4 perempuan tanpa ada figur laki-laki didominasi warna pink yang cukup mencolok. Karya ini berhubungan erat dengan karya yang berjudul “I am Happy, second wife”, Tampaknya Gilang mengkritisi dan merespon gambaran sosial pada waktu itu mengenai poligami dengan tanpa tedeng aling-aling bila diucapkan dalam kata-kata.

Karya-karya yang berjudul “Dapur, Sumur, Kasur”, “Between the Sky”, “Me, Time Mommy “, and “Late Meeting” melihatnya sebagai cara Gilang dalam merespon sesuatu keadaan yang cukup menyentuh dirinya atau bahkan rasa yang lebih mendalam, tapi secara keseluruhan gambaran yang disampaikan adalah masalah kehidupan seorang ibu, Istri, perempuan yang juga perempuan karier. Pesan-pesan itu disampaikan dengan visualisasi yang halus, tapi ada juga sisi sarkastik, seperti pada karya “Dapur,Sumur,Kasur” dan Me,Time Mommy, yang menyebabkan kita bisa tersenyum tapi juga miris, seperti ketika melihat karya-karya” Cukup 4 Istri”.

Baca Juga:  Berkreasi Produk Cantik saat Pandemik dengan Batik Lilin Dingin pada Kegiatan DWP Kemenhub RI di Jakarta

Sedangkan Karya-karya yang dibuat dengan teknik Batik agak berbeda genre, sangat dekoratif sehingga agak sulit membandingkan dengan karya-karya lainnya yang sangat kuat memuat permasalahan yang disampaikannya. Karya-karya ilustrasi, naratif dan denotatif sudah menjelaskan sesuai dengan apa yang terlihat. Meskipun masih bisa dikenali bila dilihat dari pilihan warna dan komposisi, akan tetapi tidak terlihat kekuatan Gilang Cempaka dalam menyampaikan pesan seperti pada karya-karya dluar teknik Batik.

Kepiawaian Gilang jangan dipertanyakan karena sejak kecil dia sudah dikenal sebagai pelukis cilik Indonesia dijamannya, yang sudah malang melintang memamerkan karya-karyanya baik di Indonesia maupun di manca negara. Sekarang Gilang Cempaka berprofesi sebagai Dosen di Universitas Paramadina-Jakarta, sedang menjabat sebagai Dekan di Fakultas Ilmu Rekayasa. Meskipun begitu dia tetap aktif dalam kegiatan berkesenian bersama komunitas 22 ibu yang dibangunnya bersama rekan rekannya berpameran didalam maupun di luar Negri.

Selamat berpameran Gilang Cempaka, dan bagi pemirsa selamat menikmati karya-karyanya yang bisa dilihat di link https://www.youtube.com/watch?v=8SZ0L9jmN5E

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here