Saling Lempar Bola, Dinsos dan Baznas Garut Abaikan Bantuan Terhadap Anak Tanpa Anus

0
46

GARUT, JABARBICARA.COM – Kesedihan serta lelah tampak dari raut muka kedua orangtua Sarah, bocah berumur 7 tahun yang tidak memiliki anus.

Keluarga miskin tersebut harus bolak balik ke rumah sakit agar Sarah bisa diobati dengan biaya hasil ngutang. Saat ini Sarah tinggal di rumah panggung yang hampir ambruk.

Dijumpai dikediamannya yang berlokasi di Kampung Karamat Desa Tanggulun Kecamatan Kadungora, Garut, Rabu (5/2/2020), ayah dari Sarah, Riyan (35) ternyata selama ini hanya berprofesi sebagai buruh harian serabutan.

Ia mengatakan, dirinya sangat sedih melihat anaknya yang sejak lahir 7 tahun lalu dengan keadaan tanpa anus.

“Kami merasa sedih dengan keadaan Sarah yang tanpa anus dan mulai minder saat berada di kalangan teman-temannya karena suka ada bau ditubuhnya kalau pelastik kotorannya bocor,” ucap Riyan.

Baca Juga:  Update Perkembangan Kasus Covid-19 Kab. Garut, 18 Juli 2020.

Apalagi lanjut Riyan, proses untuk operasi saja sangat ribet dan memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Dikatakannya, satu bulan ke belakang (Januari) dirinya meminta bantuan Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Garut untuk biaya akomodasi selama Sarah dirawat di Rumah Sakit (Rumkit).

“Jawaban dari Dinsos hanya merekomendasikan ke pihak Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Garut untuk pembiayaannya. Kemudian kami ajukan pengajuan bantuan ke pihak Baznas Garut, tetapi lama tidak juga ada realisasi. Akhirnya dengan ditemani seseorang yang perduli dengan kondisinya datang ke Kantor Baznas Garut dengan harapan ada sedikit bantuan biaya, tetapi pihak Baznas Garut hanya bilang akan di proses untuk rekomendasi Ke Baznas Provinsi Jawa Barat,” kata Riyan.

Baca Juga:  Tolak Ojeg Online, Ojeg Pangkalan Unras ke Kantor Kecamatan Cibatu

“Menurut petugas Baznas Garut saat itu, kami akan segera dihubungi oleh Baznas Provinsi. Tetapi yang kami dapatkan sampai saat ini tidak ada kejelasan, padahal kami sangat membutuhkan biaya yang tidak sedikit,” imbuh Riyan.

Riyan mengaku semua biaya yang dikeluarkan selama Sarah dirawat berasal dari hasil pinjam sana sini.

“Selama perawatan di RSU dr Slamet Garut saja dirinya sudah kewalahan, apalagi sekarang harus dioperasi di RS Hasan Sadikin Bandung. Kami pernah berpikir untuk membatalkan pengobatan Sarah, karena sudah tak sanggup lagi membiayai pengeluaran sehari-hari selama menunggu jadwal operasi di Rumkit. Ditambah lagi, kami harus ngutang lagi ke tetangga dan meninggalkan pekerjaan untuk bolak balik ke Rumkit di Bandung,” terang Riyan.

Baca Juga:  Pelaksanaan Program Sembako di Kecamatan Karangpawitan Berjalan Aman dan Lancar

Diakui Riyan, Ia merasa kebingungan dan serba salah, karena jangankan untuk biaya selama di Rumkit, untuk biaya makan sehari-hari saja sudah sangat sulit.

“Apalagi sekarang tidak bisa bekerja karena harus bolak balik mengurus dan menunggui anaknya. Ia berharap pihak pemerintah bisa memperhatikan nasib orang miskin seperti dirinya,” tutup Riyan. (Moli)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here