Terkait 500 TKA China, Luhut ini seperti ‘Megalomania’, Kata Pemuda Muhammadiyah

0
14

JABARBICARA.COM Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) menunda kedatangan 500 orang Tenaga Kerja Asing (TKA) ke kawasan industri di Konawe, Sulawesi Tenggara, tempat produksi lithium untuk baterai mobil listrik setelah menuai protes dari masyarakat. Namun mereka baru boleh masuk Indonesia usai pandemi COVID-19.

Dilansir dari Sindonews, sementara itu, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengungkapkan bahwa TKA China itu akan masuk Indonesia sekitar Juni atau Juli mendatang. Sikap Luhut tersebut pun dipertanyakan oleh Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Razikin.

“Pertanyaaan saya, kenapa Pak Luhut begitu ngotot dengan rencananya memasukkan 500 TKA China tersebut, ada apa? Tentu saja saya patut menduga, di sana Pak Luhut punya kepentingan individu,” ujar Razikin seperti kepada SINDOnews, Rabu (13/05/2020).

Baca Juga:  DPD Laskar Indonesia Kab. Garut Minta BPK dan BPKP Audit Repitalisasi Pasar Leles yang Amburadul

Dia berpendapat TKA China itu tidak menjadi persoalan sebetulnya kalau dalam keadaan bangsa ini normal. Dia mengatakan, hari-hari ini lebih kurang 10 juta orang yang berpotensi kehilangan pekerjaan.

Maka itu, dia meminta Luhut Binsar Panjaitan berpikir secara komprehensif.

“Saya minta Pak Luhut berhentilah membuat pernyataan yang seolah merendahkan bangsa ini, berulang kali Pak Luhut mengatakan 500 TKA China dibutuhkan karena orang Indonesia belum punya kemampuan yang dibutuhkan, pernyataan seperti mendistorsi kemampuan bangsa ini, harus dihentikan. Pak Luhut ini seperti megalomania,” tuturnya.

Razikin yakin kampus-kampus besar seperti Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM) memiliki kemampuan untuk menyiapkan tenaga-tenaga dengan kualifikasi yang dibutuhkan.

Baca Juga:  Kembali DPC PDIP Garut Santuni Guru Honorer SLB, Kali ini SLB B dan C Bina Mandiri Sukasenang, Banyuresmi, Garut

“Ajak mereka bicara, libatkan mereka untuk mendesign masa depan Indonesia. Jangan main-main sembunyi-sembunyilah,” tandasnya.

Dia mengaku tidak ingin perusahan asing mengeksploitasi sumber daya alam Indonesia berpuluh-puluh tahun.

“Sementara kita sebagai tidak berdaya mengawasinya, hanya karena arogansi satu-dua orang di Republik ini, ujung-ujungnya rakyat yang menanggung beban dalam jangka panjang,” pungkasnya. (Sindonews/JB)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here