Perumahan Vida Bekasi Kelola Sampah Ramah Lingkungan

0
69
Wakil Wali Kota Bekasi Tri Adhianto Tjahyono, Direktur Vida Bekasi Edward Kusma dan Pendiri Waste4Change Mohammad Bijaksana Junerosano saat menujukkan maggot atau belatung yang digunakan untuk mengolah sampah organik. (Poto Istimewa)

JABARBICARAT.ID — Beragam cara dapat dilakukan masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup. Salah satunya menjaga kebersihan di lingkungan sekitar, sehingga terbebas dari ancaman penyakit.

Upaya ini yang sudah dilakukan oleh Perumahan Vida Bekasi di Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi.

Perumahan yang terletak di Jalan Raya Narogong ini telah mengajak para penghuninya untuk turut mengengelola sampah sebelum dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumurbatu, Kecamatan Bantargebang.

“Pemerintah melalui Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi sudah sering mengingatkan dan bahkan mensosialisasikan kepada masyarakat untuk turut menjaga lingkungan. Salah satunya kegiatan pengelolaan sampah,” kata Wakil Wali Kota Bekasi Tri Adhianto Tjahyono pada Minggu (10/03/2019).

Dia sangat mengapresiasi, upaya pengembang perumahan ini dalam menjaga lingkungan.

Menurutnya, pengelolaan sampah yang dilakukan perumahan setempat patut dicontoh oleh perumahan lain di Kota Bekasi, sehingga stigma tentang penampung sampah bisa memudar.

Baca Juga:  4 Karyawan Positif, Salah Satunya Wadir Meninggal Dunia. RSUD Banjar Ditutup Sementara.

“Pengelolaan sampah ini bisa mendorong perubahan sikap dan kebiasaan warga terhadap sampah. Mereka dididik dan dilatih memilah sampah untuk kemudian dikelola secara bersama-sama sehingga lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan,” ungkapnya.

Tri berharap, masyarakat harus mengubah paradigma tentang sampah. Sebab selama ini masyarakat beranggapan sampah tidak bernilai, padahal bila dikelola dengan baik justru bisa menghasilkan produk yang ekonomis.

“Seperti sampah plastik dari bungkus kopi, kalau dikumpulkan dan dirajut bisa menghasilkan sebuah kerajinan tangan berbentuk tas, tikar dan sebagainya,” katanya.

Selain dipilah, sampah-sampah yang masuk ke tempat pengolahan ini juga diubah menjadi pupuk kompos untuk tanaman.

Metode yang digunakan memakai open windrow composting atau pembuatan kompos di tempat terbuka dengan sistem aerasi alamiah.

Baca Juga:  Jelang PSBB Dishub Kota Bekasi Lakukan Pemantauan di Perbatasan Jakarta

Sampah yang telah dipilah, akan ditumpuk dengan suhu yang sudah diatur oleh petugas selama 60 hari.

Setelah itu, sampah akan dicacah untuk dijadikan pupuk kompos. tidak hanya itu, kata dia, perumahan setempat juga mengelola sampah dengan cara yang unik. Mereka memakai belatung atau maggot yang telah dikembangbiakan dari induk lalat hitam.

Oleh maggot sampah-sampah organik akan dimakan, sedangkan sampah sisa maggot dapat dialihkan sebagai pupuk kompos atau dicampur dengan sampah baru yang masih basah untuk mempercepat proses open windrow sebelum pengomposan.

Selain membudidayakan maggot untuk keperluan mengolah sampah, mereka juga menjual larva tersebut untuk pakan ternak. “Ini tentu sebuah inovasi, di mana sampah-sampah organik diolah menggunakan belatung dari lalat hitam. Kemudian binatang itu juga bisa menjadi pakan ternak maupun ikan yang memiliki nilai ekonomis,” imbuhnya.

Baca Juga:  Wakil Walkot Bekasi Lepas 65 Anak Yatim Wisata ke Ibu kota Jakarta

Direktur Vida Bekasi Edward Kusma mengatakan, tempat pengolahan sampah miliknya ini dikelola oleh Waste4Change, sebuah lembaga yang bergerak pada layanan pengelolaan sampah. Menurut dia, pengelolaan sampah tersebut mampu menyerap 70 persen sampah yang dihasilkan oleh penghuni Perumahan Vida.

“Pengolahan sampah yang kita lakukan mampu menyerap 70 persen sampah penghuni untuk diubah menjadi pupuk kompos maupun biji plastik yang bisa dijual kembali, dan sisanya 30 persen dibuang ke TPA Sumurbatu,” jelasnya

Menurut Edward, proses pengolahan sampah diawali dari pengumpulan sampah oleh petugas, kemudian dipilah sesuai dengan jenisnya, seperti sampah plastik, kaca dan logam.

Proses berikutnya adalah dengan memasukkan sampah plastik ke dalam mesin pencacah kemudian membuatnya menjadi potongan-potongan kecil guna diolah kembali. “Upaya ini merupakan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle),” pungkasnya. (TG/Fj)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here