Tembakau Hitam Garut Merambah Pasar Dunia

0
156

GARUT, JABARBICARA.COMkabar baik untuk petani tembakau di Kabupaten Garut mengingat tembakau asal Garut kini mulai merambah pasar di negara-negara Asia Tenggara, seperti Malaysia, Singapura, dan  Brunei Darussalam. Hal itu karena kualitas tembakau asal kota Intan ini memiliki kualitas yang baik bahkan diatas rata-rata.

Ketua Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Garut, Idin, mengatakan, tembakau dari kabupaten Garut tidak hanya dipasarkan ke Kabupaten Temanggung Jawa Tengah. 

“Tembakau dari Garut tidak hanya dipasarkan ke Jawa Tengah, kini mulai merambah pasar luar Negri khusunya daerah ke Asia Tenggara.Komoditas tembakau yang di pasarkan ke Luar Negri jenisnya berbeda dengan yang dipasarkan di Indonesia. Hanya komoditas tembakau hitam yang merambah pasar luar negri,” ungkapnya, saat menerima kunjungan Wakil Bupati Garut, Helmi Budiman, untuk menyerahkan bantuan dari Baznas Garut, di Rancabango, Kecamatan Tarogong Kaler, Kamis (23/97/2020)

Baca Juga:  Yudi Resmi Mencalonkan Diri Sebagai Calon Ketua Kadin Garut

Ditambahkan Idin, produksi tembakau di Kabupaten Garut sangat potensial. Terdapat sekitar 10 hektare kebun yang tersebar di 24 kecamatan.

“Produksi tembakau di Garut itu rata-rata 10 sampai 12 ton per hektar, dalam setahun,” katanya.

Sementara, Wakil Bupati Garut, Helmi Budiman didampingi Kepala Dinas pertaniaan dan Holtikutura saat dikonfirmasi media usai acara, menyebutkan, uang yang beredar di petani tembakau di Kabupaten Garut,  yang dikelola oleh hampir 8000 ( Delapan ribu) kepala keluarga (KK), mencapai Rp 200 milyar.

“Dengan pengelolaan pasca panen, uang yang beredar, bisa mencapai Rp400 milyar, hingga Rp600 milyar,” ujarnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Holtikultura Kabupaten Garut, Beni Yoga, mengatakan Kabupaten Garut pada Tahun 2020  menerima Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau ( DBHCT) sebesar Rp27 milyar, dan hampir setengahnya dikelola untuk bidang kesehatan.

Baca Juga:  UKM di Garut akan Luncurkan Pusat Jualan Online Pertengahan Juni

“Sedangkan untuk pertanian sendiri hanya sekitar Rp 3 milyar, yang dipergunakan sebagian besar untuk penanganan pasca panen, termasuk pencarian tembakau yang kadar nikotinnya rendah,” tuturnya. (Ridwan F) 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here