Desa Wisata Kertayasa Pangandaran Raih Penghargaan dari Kemendes PDTT

0
256

Pangandaran. JABARBICARA.COM— Berkat wisata body rafting yang dikelola BUMDes desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, mengantarkan meraih juara pertama Lomba Desa Wisata Nusantara 2019 dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kememdes PDTT).

Dengan adanya penghargaan tersebut, wisatawan kini tak hanya bisa menikmati wisata Pantai Pangandaran semata namun ada beberapa tempat wisata yang tak kalah menarik, salah satunya adalah Cukang Taneuh atau Green Canyon dan lokasinya ada di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang.

“Jadi di sini, wisatawan bisa menikmati keindahan sungai dengan pemandangan sekitarnya yang menarik. Air yang jernih, pepohonan rimbun, tebing karst, air terjun kecil, hingga bebatuan yang tampak unik,” kata Ketua BUMDes Guha Bau, Teten Sutanto, kepada jabarbicara.com , Rabu. (18/12/2019).

Baca Juga:  Garut Akan Kembangkan Hutan Sancang Jadi Destinasi Wisata Terbatas

Teten mengatakan yang perlu dicoba wisatawan di Green Canyon adalah body rafting, wisata ini merupakan kegiatan wisata unggulan yang menawarkan dua trek. 

Pertama adalah trek panjang dengan panjang jarak tempuh 10 kilometer. Kedua adalah trek pendek dengan jarak 5 kilometer.

Tiket untuk menikmati keseruan body rafting adalah Rp225 ribu (trek panjang) dan Rp200 ribu (trek pendek). 

Dijelaskan Teten, harga ini sudah mencakup perjalanan menggunakan mobil, perahu, makan, asuransi, dan tentu saja body rafting itu sendiri dengan pemandu berpengalaman.

“Untuk body rafting ini, pesertanya minimal lima orang. Ini bisa satu kelompok atau digabung dengan peserta lain. Waktu tempuhnya sendiri 4 sampai 5 jam untuk trek panjang dan 1,5 sampai 3 jam untuk trek pendek,” kata Teten Sutanto.

Baca Juga:  Pengcab GmnI, Kritisi Disparbud Garut: Yang Harus Dilestarikan Itu Peninggalannya Bukan Sifat Belanda-nya

Sepanjang perjalanan, pengunjung akan bertualang menyusuri sungai yang terlihat seolah hijau karena pantulan warna dedaunan. 

Namun air di sini benar-benar jernih dan menyegarkan dan pengunjung harus berenang hingga berjalan kaki melewati bebatuan.

Tak perlu khawatir jika tak bisa berenang sebab, setiap peserta dibekali pelampung, helm, sepatu karet, dan tentunya didampingi pemandu yang siap membantu jika sewaktu-waktu anda perlu bantuan.

Green Canyon sendiri kini jadi favorit wisatawan dan tahun lalu, pengunjung yang menikmati kegiatan body rafting menjadi 15 ribu orang. 

Hal ini berdampak positif untuk kegiatan ekonomi warga setempat. Bahkan, perputaran uangnya mencapai Rp2 miliar.

Hal ini berbanding terbalik dibanding sebelum Green Canyon jadi tempat wisata dan menyuguhkan body rafting karena jangankan jadi tempat wisata, warga setempat pun takut untuk masuk ke Green Canyon.

Baca Juga:  Puncak Bogor Miliki Ikon Baru Sarang Burung Raksasa

“Dulu sebelum jadi tempat wisata, bagi masyarakat di sini, Green Canyon itu adalah tempat angker. Tapi setelah jadi tempat wisata, secara perlahan mulai berkembang dan memberi manfaat bagi warga di sini,” jelas Teten.

BUMDes Guha Bau sendiri berusaha terus mengembangkan potensi wisata di Desa Kertayasa. Rencananya akan dibangun tempat pentas untuk menampilkan ragam kesenian khas daerah.

“Untuk ke depan, kita juga akan mengembangkan Green Coral yang sekarang belum begitu dikelola karena kemarin kondisi sungainya tidak ada airnya akibat kemarau,” pungkas Teten. (Ant/Dini)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here