Impresi Flora dalam Festival Kembang Kertas Sejagat Mewangi Nusantara

0
297

Oleh : Ayoeningsih Dyah Woelandhary, Jakarta

JAKARTA, JABARBICARA.COM– Dalam kondisi pandemik banyak kegiatan yang beralih dengan memanfaatkan sarana dan ruang virtual, salah satunya adalah yang di gagas Garasi 10 yang dimiliki oleh Prof. Setiawan Sabana, Guru Besar ITB, menghadirkan Festival Kembang Nusantara Mewangi Nusantara 2020 yang diketuai Ariesa Pandanwangi ( UK Maranatha-Bandung) menghadirkan perempuan perupa dari berbagai wilayah di Nusantara untuk menampilkan kaya apik dan berbagai media. Seluruh karya yang tampil melalui proses kurasi oleh Citra Smara Dewi (Kurator Galeri Nasional), Nuning Damayanti dan Ira Adriati, keduanya dari FSRD ITB. Salah satu karya yang ditampilkan pada pameran tersebut bertema Impresi Flora, karya dibuat oleh Ayoeningsih Dyah Woelandhary, dosen Program Studi DKV Universitas Paramadina, visual yang dihadirkan adalah aneka objek bunga dengan teknik mix media.

Impresi #2 karya Ayoeningsih Dyah Woelandhary. Pen on Papper Finishing Digital. 2020

Dalam kesempatan berbincang dengan perupa alumni FSRD ITB yang kini menetap di Cibubur, diutarakan bahwa bunga lekat dengan perempuan, bunga sering dijadikan salah satu gagasan dalam berkarya yang dihasilkan. Bunga tidak hanya memiliki visual yang cantik, namun jika digali secara dalam dan secara spiritual, keberadaan bunga lekat dengan makna dan symbol, maka tidaklah heran jika keberadaan bunga tidak saja menjadi sarana mempercantik atau menghias, tapi juga sebagai bagian dalam aktivitas ritual masyarakt di Nusantara.

Baca Juga:  Prodi Seni Rupa Murni-Maranatha Gelar Pameran Virtual untuk Donasi Kepedulian Penanggulangan wabah Covid-19 "I care therefore I exist"

Konsep karya yang dilakukan oleh perupa yang biasa disapa Ayu ini bisaanya menggunakan komposisi monokrom dan mengolah bentuk garis dan media bolpen, namun kali ini dalam olah visual digunakan media digital sebagai salah satu bentuk upaya memperkaya visual. Konsep ini didasari bahwa bunga memiliki aneka warna, dan jenis warna tersebut sering digunakan sebagai identitas pembeda bunga yang satu dengan lainnya. Objek bunga yang ditangkap bersumber dari semua jenis yang ada di sekitar hunian, akibat pandemic, semua tanaman yang bertumbuh seolah menjadi wahana rekreasi yang mendamaikan hati. Momen bunga merekah, tumbuhnya kuncup bunga, gugur dan layu lainnya menjadi salah satu hal yang melankolis, hingga melahirkan impresi emosional yang mendalam bagi perupa kelahiran Bangkalan ini. Karya Ayu hadir dalam nuansa warna cerah, dengan komposisi kontras, kesan impresi yang hendak dibangun terasa, melalui torehan kuat dan warna yang solid.

Baca Juga:  Mimikri Plastik: Sikap Menyamarkan dan Menggunakan Plastik Dalam Kehidupan Sehari-jari

Narasi yang hendak disampaikan oleh Ayu bahwa keindahan itu tidak semata harus tersecermin nyata, keindahan itu bisa terbalut dalam aneka wujud, karena keindahan hakiki itu hadir dari impresi atau kesan mendalam yang dirasakan. (Art/Jb)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here