Koreografi Pakarena Dalam Pusaran Waktu, “Konsep Karya, Perspektif Ketubuhan Semesta Makassar”

0
198

Oleh: Dr, Nurlina Syahrir M.Hum, seorang koreografer, penari, peneliti, dan Dosen dari Universitas Negeri Makasar

MAKASSAR, JABARBICARA. COM– Benteng Ford Rotterdam berada di jantung kota Makassar, suatu tempat yang selalu dikunjungi oleh para pendatang dari dalam dan luar negeri. Dilihat dari dimensi budaya, benteng ini terbagi menjadi empat ruang budaya. Keempat ruang-ruang ini membentuk karakteristik budaya kota Makassar. Namun saat ini keempat ruang budaya tersebut masing-masing membangun benteng-benteng budaya baru yang kokoh guna menjaga keamanan kerajaan komunitasnya. Konsep penciptaan Pakarena melalui pendekatan fungsi keruangannya sebagai pusat perfomance art. Karya ini sebagai upaya menyatukan ekspresi masyarakat tradisional & modern dalam bingkai kekinian. Untuk itu, dahulu & kini tidak terjebak dalam wacana komparasi tetapi melihat fakta dan perkembangan yang terjadi, dalam upaya menemukan benang merah untuk masuk dalam ruang imajinasi dan kontemplasi, fakta budaya dan lintas budaya merupakan dialogis budaya.

ASPEK PEMBENTUK
Pakarena sebagai mitos, menurut pandangan Victor Turner, yaitu hubungan manusia dengan alam dewa atau mitos. Sejarah munculnya Pakarena diawali & diuraikan melalui pemaknaan nama Pakarena, baik secara etimologi maupun terminology. Pakarena berasal dari kata akkarena, yg salah satu artinya adalah pertunjukan, tampaknya yang dimaksud adalah menunjukkan. Aspek mitologis Pakarena tampak dengan dua unsur tradisi yg membangunnya, yaitu pesisir & pegunungan. Dualisme laut-gunung dpt diasosiasikan sebagai dualisme atas-bawah. Perwujudan tataran atas, sebagai tataran Illahi merupakan fenomena immaterial, sesuatu yg halus; sedang tataran bawah, sebagai tataran manusia atau epic merupakan manifestasi alam material, sehingga dapat dikatakan Pakarena merupakan upaya konstruksi budaya. Pd sisi lain, kontruksi Pakarena sekaligus mengalami diskontinuitas, yg ditunjukkan dalam aspek garap tarinya baik pd kostum, pola lantai, iringan, property, dsb. Fenomena demikian merupakan hal yang wajar terjadi dalam kehidupan kesenian, akan selalu melakukan penafsiran ulang dalam memenuhi kebutuhannya. Aspek social, penari berasal dari berbagai kalangan, kostum dijadikan identifikasi strata sosial. Disinilah sebenarnya disadari atau tidak Pakarena merupakan representasi semangat integritas masyarakat Makassar. Pakarena dengan lingkungan benteng yg kokoh, tdk lagi bertutur tentang romantisme masa silam. Berangkat dari fakta dinamika kehidupan masyarakat lingkungan inilah menimbulkan pemikiran bahwa Benteng Rotterdam dapat menjadi ruang ekspresi kekinian.

RUANG DAN WAKTU
Durasi dibagi dalam tiga bagian yaitu pagi, sore, dan malam hari. Alasan penyelenggaraan saat pagi, senja dan malam hari adalah untuk lebih memberdayakan situasi Benteng Rotterdam yg berhubungan dengan ruang & waktu. Waktu pagi, spasial dari senja menuju malam mempengaruhi perilaku manusia maupun visual keruangan yang berdampak pada ekspresi tubuh & cahaya matahari menuju cahaya lampu.

Baca Juga:  PM Gatra Dukung Penyelematan Situs Cagar Budaya dan Mata Air Gunung Sanghyang Limbangan.

KONSTRUKSI KOREOGRAFIS
Bagian Pertama : Ammuntuli Aparapa Empo
Ammuntuli dalam bahasa Makassar berarti menyambut, mempersilahkan tamu menuju tempat duduk yang telah disiapkan. Sayup-sayup terdengar lantunan suara orkes turiolo. Lagu yang dilantunkan adalah lagu-lagu campuran Makassar Belanda diantaranya ( 1). Ati raja, (2) Bombang tallua, ( 3). Bunga Biraeng, (4). Sailong, (5.). Pisangbangngi, (6). Jali-jali, (7). Lebba ganggangna paria, dan (8). Rambang-Rambang
Bagian kedua : Banrimanurung menitiskan Asulapa appa
Iringan music dan focus cahaya mengantar seorang penari perempuan (penggambaran tentang mitos to manurung), yang tidak diketahui asalnya, datang dari cahaya turun dari langit. Ia hadir ketika masyarakat membutuhkannya. Banrimanurung turun dari botinglangi (negeri kayangan) ke lino (bumi) menitiskan manusia asulapa appa (disimbolkan dengan 4 penari yang ada dalam toeng (ayunan) yang mendeskripsikan sosok yang sempurna sebagai manusia yang hidup dalam masyarakat sebagai panutan memberi petunjuk kepada manusia mengenai tata cara hidup. Manusia asulapa appa adalah manusia sempurna berwawasan empat penjuru angin. Sempurna karena telah mempunyai pengalaman, ilmu & kemampuan dari segala aspek kehidupan.
Bagian ketiga : Karenang Bate Salapang,
Bate salapang adalah majelis yang memilih dan melantik raja, mereka siap mati untuk rajanya. Musik tradisi makassar makin intens dan focus cahaya menyinari bate salapang yang diperankan oleh 9 orang penari laki-laki dan ditambah lagi 1 org penari menyimbolkan pacallaiya menampilkan karenang (permainan silat) dari bate salapang. Karenang berbeda dengan beladiri pada umumnya, tidak ada menyerang dan menangkis sifatnya lebih menunggu & langsung melumpuhkan.
Bagian Keempat: Kota Kosmopolitan, Kota kosmo dgn seluruh aspeknya dan masyarakat yang multi tentu saja akan mempengaruhi perkembangan kebudayaan masyarakat. Sebuah pemahaman, penghargaan, penilaian atas keberagaman budaya dr berbagai etnik yg berbeda untuk saling berinteraksi sebagai syarat yang niscaya untuk hidup bersama.
Bagian kelima : Akarena dalam pusaran waktu, Musik dengan intensitas yang tinggi dan cahaya menyinari 24 orang penari yang sejak awal duduk di atas paladang (teras rumah) menyimbolkan tentang kesabaran, ketabahan, keteguhan manusia Makassar dalam mengarungi pusaran waktu yang lalu, kini, dan bahkan yang akan datang. Di sudut yang lain, sayup-sayup terdengar tembang jawa yang dilantunkan dengan pemahaman bahwa inti dari hidup adalah diibaratkan tempat persinggahan. 24 orang penari di atas paladang tetap menari ditempat tanpa terganggu dengan kehadiran penari Jawa. Tiba-tiba terdengar suara motor yang mencoba menambrak suasana music & cahaya yang dibenturkan. Keteguhan penari semakin teruji dengan menaikkan oja (perisai) di depan wajahnya masing-masing sehingga sinar/lampu dan suara motor yang diarahkan pada kelompok penari 24 orang tersebut akhirnya melemah dengan sendirinya dan akhirnya mati. Pertahanan 24 orang penari semakin kokoh dengan membuat pola lantai menjadi 1 baris. Hal ini melambangkan abulo sibatang (satu tekad satu pendirian).

Baca Juga:  IKMG Gelar Kejuaraan Ketangkasan Domino Eratkan Silaturahmi

KONSEP PENONTON
Pertunjukan terjadi di beberapa lokasi di kawasan Benteng. Perilaku penonton diharapkan tercipta mengikuti alur sajian dari fungsi ruang-ruang benteng yang terpakai, stimulus dari lingkungan maupun suasana dari ekspresi estetis koreografi yang tersaji. Efek dari perilaku ini adalah penonton menjadi bagian integral pertunjukan dan kesemuanya merupakan bagian dari konsep koreografi tersebut.

FUNGSI PENCIPTAAN
Untuk melihat perjalanan sosial secara faktual dari dimensi waktu, masa lalu. Benteng pertahanan Belanda masa kini menjadi turism kantor purbakala dan museum budaya (museum lagaligo). Pakarena yang diyakini pada awalnya sebagai tari upacara yang mempunyai makna ajaran hidup suku Makassar secara simbolik telah berubah pula sebagai tari hiburan yang turism. Fakta mitologis, social, antropologis maupun arsitektur (benteng) menimbulkan fakta dialogis. Ini berarti bahwa masyarakat di masa depan menjadi benteng manusia berbudaya yang terbuka. u

Baca Juga:  Wagub Jabar: Ajengan Masuk Sekolah Akan Mulai Diterapkan 2019 Ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here