Nilai Universalisme yang Mendunia

1
1111

JABARBICARA.COM– Penasaran dengan perjalanan tokoh Lama Atisha , seorang pendeta Budha yang menyebarkan ajaran Budha di Tibet disebutkan pernah belajar di negara Indonesia, mengawali rencana mengadakan seminar. Dibantu seorang kawan dari Malaysia, membuka hubungan komunikasi dengan pihak Tibet mengalami hambatan sejak 4 tahun lalu sempat beberapa kali gagal terwujud.

Uniknya dalam kondisi pamdemi inilah peluang malah terbuka. Seorang pendeta besar dari Tibet tiba tiba menyetujui untuk berbicara dalam seminar online dengan syarat untuk orang Indonesia. Maka digelar acara ini pada hari Rabu 3 Nopember 2020, digelar oleh Bumidega dengan 2 pembicara, yaitu H.E. Kyabje Dagri Rinpoche dari Tibet serta Lucky Hendrawan tokoh budayawan dari Indonesia. Untuk penerjemah dari Tibet dibantu oleh Ven. Stephen Carlier dari Amerika Serikat dan Herry Agung untuk menerjemahkan ke Bahasa Inggris.

Bertindak sebagai moderator; Arleti M Apin sekaligus pembawa acara yang memandu jalannya seminar online tersebut.
Komunikasi yang agak lambat karena harus dialih bahasakan tidak menyurutkan minat peserta, sebab H.E. Kyabje Dagri Rinpoche merupakan tokoh penting di Tibet, beliau merupakan Profesor dengan pengalaman luarbiasa dan perannya membantu Dalai Lama bertugas.

Baca Juga:  Dosen dan Mahasiswa FDIK Universitas Esa Unggul sertai Pameran Poster Asedas 2020

Dari sekian banyak nilai kemanusiaan yang beliau bagikan malam itu, terdapat banyak kesamaaan dengan ajaran tua dari Indonesia yaitu Sevaka Dharma dalam materi dibawakan oleh pembicara kedua. Nilai universalisme dalam ajaran yang telah lama dan nyaris tak dikenal ini ternyata adalah penghubung antara Tibet dan Indonesia. Salah satunya adalah menjaga perbuatan pada sesama, pengendalian diri, kasih sayang pada semua dan saling membantu dalam membangun kehidupan di muka bumi.

Hasil dari acara ini terjawab langsung oleh pernyataan H.E. Kyabje Dagri Rinpoche secara tegas mengatakan bahwa ajaran yang berkembang di Tibet bersumber dari negara kita, dibawa oleh Lama Atisha yang belajar dari Lama Serlingpa atau guru beliau dari Indonesia. Dipenghujung acara salah, seorang profesor dari Tibet Geshe Zopa sempat melontarkan gagasan untuk mengundang Dalai Lama dalam acara serupa. Berbanggalah kita menjadi orang Indonesia. (Art/Jb)

Baca Juga:  Garis Garis Dialog Nuning Damayanti

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here